Title : MINE
Genre :
angst, romance
Length :
-
Rate :
M
Main cast : yunjae etc.
Chapter 4
Ceklek!
Yunho masuk ruangan siwon dengan membawa berkas yang sudah
di setujui oleh klien dengan setelan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya
yunho tampak sangat gagah siwon mengamati pria yang dicintai putra tunggalnya
itu dengan dalam
“presdir, ini berkas yang sudah di tanda tangani CHOI corp”
yunho menyerahkan berkas itu di meja siwon
“yunho duduklah dulu” yunho nampak bingung tapi ia tetap
duduk dengan sopan
“joongie putra kecilku telah bertumbuh dewasa sekarang,
bahkan ia berkata sudah menyukai seseorang bahkan meminta pendapatku bagaimana
jika ia menjalani hubungan serius dengan seseorang untuk pertama kalinya
padahal ia sudah bergonta ganti teman kencan sebelumnya” yunho diam
mendengarkan maksud dari kata- kata presdirnya “dia mencintai seseorang yunho
ah” siwon memperhatikan yunho
“ohh begitu” yunho nampak kikuk
“jangan berpikir tidak enak kepadaku, cukup jalani hubungan
kalian dengan baik dan jangan menyakitinya aku percayakan jaejoong padamu”
siwon menepuk pundak yunho dan beranjak keluar ruangan jaejoong yang sudah
terbangun sejak appanya menyebut namanya menjadi menegang benarkah appanya
merestuinya dan yunho batinnya.
Yunho keluar ruangan
dengan perasaan sedih ia tidak menyangka jaejoong mengatakannya pada kim siwon
tentang mereka lalu yunho mengirim pesan pada jaejoong untuk menemuinya di
apartemennya
‘temui aku di apartemen’
‘ne.. aku akan datang sangat cepat yunnie..’
Jaejoong berlari menuju lift ia tidak sabar untuk mengatakan
kepada yunho jika mereka sudah mendapat restu dari appanya sepanjang jalan ia
tersenyum membuat semua orang menatapnya senang anak presdir yang biasanya
sangat cuek mendadak jadi orang yang sangat ramah
30 menit kemudian -
Brak!
Yunho membanting pintu apartemennya dengan keras kepalanya
sungguh ingin pecah memikirkan jaejoong yang begitu lancang ia mengendurkan
ikatan dasinya yang seakan mencekiknya ia duduk di sofa ruang tamu dengan mata
terpejam sejenak meredakan emosinya
Cup
Jaejoong mengecup bibir yunho yang sedang bersandar pada
sofa dengan mata tertutup
“yunnie.. aku sudah datang kenapa masih menutup mata eoh”
jaejoong mempoutkan bibirnya
“apa aku lelucon bagimu boo?!” jaejoong mengeryit
“apa maksudmu bear, aku tidak pernah menganggapku seperti
itu?” yunho membuka matanya dan memandang jaejoong dengan mata yang tajam
membuat jaejoong sedikit takut
“mwo! Kau tidak menganggapku lelucon tapi kau- .. aishhh!!”
yunho mengacak rambutnya kesal ia memandang jaejoong yang memandangnya dengan
mata berkaca- kaca “kenapa kau mengatakannya pada presdir!” air mata jaejoong
sudah berlinang
“aku hanya ingin memastikan padanya yun, aku tidak bermaksud
seperti itu padamu sungguh” yunho memandang jaejoong tidak tega ia bangkit
menuju lemari es untuk minum tenggorokannya mendadak kering
“apalagi yang ingin kau pastikan, aku sudah mengatakannya
padamu aku yang akan bilang pada presdir dan kau cukup berada disampingku boo”
kata yunho setelah ia meminum air mineral yang ada di tangannya
“ak- aku hanya takut appa tidak merestui kita yunnie” cicit
jaejoong ia menundukkan kepalanya
“kalaupun tidak direstui aku akan berusaha mendapatkan
restunya boo” yunho mengehela nafas ia mendekat ke jaejoong dan memeluk
jaejoong yang sudah bergetar menangis
“mhiane..” jaejoong melesakkan kepalanya ke dada yunho dan
menangis membuat kemeja abu- abu yunho menjadi basah
“haaah gwencana, semuanya sudah terjadi” yunho mengelus kepala jaejoong dengan sayang
“malam ini aku menginap disini ne yunnie ah?” jaejoong
memasang puppy eyes attacknya
“ani.. kau harus pulang boo,
aku tidak ingin appamu kawatir” jawab yunho
“aniya.. aku akan memberitahu appa jika aku bersamamu” yunho
menggeleng
“kau harus tetap pulang, malam ini aku akan tidur di
apartemen sendiri” jaejoong mengrucutkan bibirnya membuat yunho tertawa
“arasso arasso aku akan pulang nanti!” kesal jaejoong
“boo.. aku lapar sekali, kau tidak ingin membuat sesuatu
untukku?” yunho mengelus perutnya
“ne, aku akan memasak tunggu ne” jaejoong beranjak menuju
dapur yunho yang nampak rapi sekali
20 menit kemudian –
“yunnie ah, bangunlah.. ayo makan” jaejoong membangunkan
yunoho yang terlelap di sofa
“eungh. Ne” yunho mengucek matanya dan berjalan kearah meja
makan yang sudah ada berbagai makanan
“selamat makaan” ucap jaejoong ceria membuat yunho tertawa
mereka makan dengan hening mendadak jaejoong ingat prercakapan yunho dan
changmin kemarin ia menjadi tidak bernafsu makan benarkah ummanya berbuat hal
seperti itu dan apakah appanya sudah mengetahuinya
“jangan makan dengan melamun seperti itu boo..” tegur yunho
membuat jaejoong sadar kembali
“ah ne yunnie” jaejoong tersenyum lucu
“kau sedang memikirkan apa boo?” tanya yunho
“ani, aku tidak memikirkan apa – apa yunnie” yunho tau
jaejoong berbohong tapi ia tidak akan memaksa jaejoong memberitahunya
“ne, lanjutkan makanmu boo” jaejoong mengangguk ponsel yang
ada di atas meja makan bergetar
“ponselmu boo” jaejoong
melihat pesan yang baru saja diterimanya dari orang suruhannya jaejoong
meremas ponselnya lalu meletakkannya kembali
‘nyonya kim sedang berada di red ocean café bersama seorang
pria bernama tan hankyung CEO morimo corp’
“ada apa boo?” tanya yunho santai
“ani, junsu mengajakku party yunnie” jaejoong tersenyum
yunho tau senyum itu dipaksakan
Yunho dan jaejoong sesesai membereskan cucian piring dan
jaejoong berpamitan pulang yunho memaksa ingin mengantar tapi jaejoong
bersikeras tidak mau
“gwencana.. aku sudah besar dan aku tau jalan pulang yunnie”
“baiklah.. aku mengalah, hati – hati dijalan ne” jaejoong
mengangguk dan tersenyum perlahan meninggalkan aprtemen yunho menuju lift
TING !
Setelah lift terbuka jaejoong langsung berlari menuju ke
mobilnya yang terparkir dan mengemudikannya dengan cepat menuju cafe yang
disebutkan taemin orang kepercayaannya jaejoong menghubungi taemin
“yeoboseyo jae hyung..” jawab taemin
“kau masih disana taemin? Apa mereka sudah pergi?” tanya
jaejoong
“ani.. mereka masih disini belum beranjak hyung” jawab
taemin
“aku sebentar lagi sampai disana” jawab jaejoong
“ne”
Pip.
Jaejoong smpai di pelataran café ia bisa melihat taemin
duduk agak menjauh dari ummanya dan pria itu ia juga bisa melihat ummanya
tertawa bahagia dan merona malu – malu saat digoda oleh pria itu tanpa disadarinya
air mata yang ditahannya turun dengan deras membuat dadanya sangat sesak ia
menangis sesenggukan di dalam mobilnya
dengan segera diusapnya air matanya dan menguatkan hati menelfon ummanya
dilihatnya ummanya melihat ponselnya dan meminta izin pada pria itu
“yeoboseyo uri joongie” jawab umma kim
“yeoboseyoo umma..” ucap jaejoong ia mati- matian menahan
tangisnya
“ada apa joongie, tumben menelfon umma?” jaejoong melihat
tangan ummanya di genggam pria itu hantinya sangat sakit
“aku hanya ingin menelfonmu umma, kau sedang apa umma?”
Tanya jaejoong
“uhm.. umma sedang diruang ganti dengan para model joongie,
wae?” dusta umma kim
“ohh begitu, mian mengganggu kesibukanmu umma. Lanjutkan
saja”
Pip.
Jaejoong mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban
ummanya terlalu sakit melihat apa yang dilihatnya dengan matanya sendiri juga
kenyataan bahwa ummanya berbohong padanya adalah kenyataan yang benar – benar
menamparnya ia membayangkan wajah appanya dan mulai terisak keras bagaimana
appanya bisa menyembunyikan hal yang sangat menyakitkan ini dengan senyum
ramahnya itu jaejoong tidak bodoh jika changmin dan yunho sudah menyelidiki ini
pasti appanya telah tau yang sebenarnya terjadi.
Jaejoong melihat ummanya dan pria itu keluar dari café dan
menuju ke mobil hitam bukan milik ummanya tapi milik pria itu saat mobil melaju
agak jauh ia mengikuti mobil hitam itu di depannya nampak mobil taemin yang
juga mengikuti mobil itu
Mobil yang ditumpangi ummanya sampai di hotel mirotic
jaejoong sangat terkejut ia juga seorang namja yang sangat mengerti apa yang
akan dilakukan kedua orang itu dengan jaejoong melihat keduanya bergandengan
tangan dan memesan kamar jaejoong melangkah pelan mengikuti keduanya jaejoong
melihat kamar bertuliskan 801 yang di masuki keduanya 20 menit yang lalu
kakinya bergetar dan airmatanya tak kuasa dibendungnya ia
melangkah hingga didepan pintu kayu berwarna coklat yang nampak indah ia tahu
hotel mirotic bukan hotel biasa hotel bintang lima yang hanya didatangi oleh
para gedset juga kolongmerat ia melangkahkan kakinya menuju pintu di dipan
kamar itu tangannya sudah akan mengetuk tapi suara ummanya menginterupsinya
‘aahh hannie.. faster.. shhh hanniee..’
Hati jaejoong berdenyut nyeri ia memutar tubuhnya dan
berjalan menjauh dari kamar itu ia berjalan cepat dengan air mata bercucuran
menuju mobilnya
‘yunnie.. aku sudah sampai rumah’
‘appa aku akan menginap dirumah junsu’
‘Suie jika appaku ataupun yunho bertanya padamu katakan aku
menginap dirumahmu’
Setelah mengirim pesan kepada ketiganya jaejoong menekan
tombol off dan membanting ponselnya ke dasbor mobil dan melajukan mobilnya
menuju sungai han ia ingin menenangkan diri dengan kenyataan yang benar – benar
menamparnya
“umma.. kenapa kau tega hiks sekali pada appa hiks”
jaejoong duduk di bangku yang ada di
sepanjang sungai han ia menangis sesenggukan sambil memukul dadanya yang
berdenyut sakit
“mengapa umma! Hiks..”
masih dengan posisi yang sama hingga dua jam berlalu ia merasa tubuhnya
kedinginan dan tangannya sudah mati rasa Karena ia hanya menggunakan kaos putih
di lapisi sweeter dan skinny jeans belel ia berdiri dan berjalan menuju
mobilnya dengan mata sembab ia tertidur di dalam mobilnya hingga pagi.
TBC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar