Minggu, 05 Februari 2017

MINE chapter 4



Title                 : MINE
Genre              : angst, romance
Length             : -
Rate                 : M
Main cast        : yunjae etc.

Chapter 4

Ceklek! 

Yunho masuk ruangan siwon dengan membawa berkas yang sudah di setujui oleh klien dengan setelan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya yunho tampak sangat gagah siwon mengamati pria yang dicintai putra tunggalnya itu dengan dalam

“presdir, ini berkas yang sudah di tanda tangani CHOI corp” yunho menyerahkan berkas itu di meja siwon
“yunho duduklah dulu” yunho nampak bingung tapi ia tetap duduk dengan sopan
“joongie putra kecilku telah bertumbuh dewasa sekarang, bahkan ia berkata sudah menyukai seseorang bahkan meminta pendapatku bagaimana jika ia menjalani hubungan serius dengan seseorang untuk pertama kalinya padahal ia sudah bergonta ganti teman kencan sebelumnya” yunho diam mendengarkan maksud dari kata- kata presdirnya “dia mencintai seseorang yunho ah” siwon memperhatikan yunho
“ohh begitu” yunho nampak kikuk
“jangan berpikir tidak enak kepadaku, cukup jalani hubungan kalian dengan baik dan jangan menyakitinya aku percayakan jaejoong padamu” siwon menepuk pundak yunho dan beranjak keluar ruangan jaejoong yang sudah terbangun sejak appanya menyebut namanya menjadi menegang benarkah appanya merestuinya dan yunho batinnya.
Yunho  keluar ruangan dengan perasaan sedih ia tidak menyangka jaejoong mengatakannya pada kim siwon tentang mereka lalu yunho mengirim pesan pada jaejoong untuk menemuinya di apartemennya
‘temui aku di apartemen’
‘ne.. aku akan datang sangat cepat yunnie..’
Jaejoong berlari menuju lift ia tidak sabar untuk mengatakan kepada yunho jika mereka sudah mendapat restu dari appanya sepanjang jalan ia tersenyum membuat semua orang menatapnya senang anak presdir yang biasanya sangat cuek mendadak jadi orang yang sangat ramah

30 menit kemudian -

Brak!

Yunho membanting pintu apartemennya dengan keras kepalanya sungguh ingin pecah memikirkan jaejoong yang begitu lancang ia mengendurkan ikatan dasinya yang seakan mencekiknya ia duduk di sofa ruang tamu dengan mata terpejam sejenak meredakan emosinya

Cup

Jaejoong mengecup bibir yunho yang sedang bersandar pada sofa dengan mata tertutup
“yunnie.. aku sudah datang kenapa masih menutup mata eoh” jaejoong mempoutkan bibirnya
“apa aku lelucon bagimu boo?!” jaejoong mengeryit
“apa maksudmu bear, aku tidak pernah menganggapku seperti itu?” yunho membuka matanya dan memandang jaejoong dengan mata yang tajam membuat jaejoong sedikit takut
“mwo! Kau tidak menganggapku lelucon tapi kau- .. aishhh!!” yunho mengacak rambutnya kesal ia memandang jaejoong yang memandangnya dengan mata berkaca- kaca “kenapa kau mengatakannya pada presdir!” air mata jaejoong sudah berlinang
“aku hanya ingin memastikan padanya yun, aku tidak bermaksud seperti itu padamu sungguh” yunho memandang jaejoong tidak tega ia bangkit menuju lemari es untuk minum tenggorokannya mendadak kering
“apalagi yang ingin kau pastikan, aku sudah mengatakannya padamu aku yang akan bilang pada presdir dan kau cukup berada disampingku boo” kata yunho setelah ia meminum air mineral yang ada di tangannya
“ak- aku hanya takut appa tidak merestui kita yunnie” cicit jaejoong ia menundukkan kepalanya
“kalaupun tidak direstui aku akan berusaha mendapatkan restunya boo” yunho mengehela nafas ia mendekat ke jaejoong dan memeluk jaejoong yang sudah bergetar menangis
“mhiane..” jaejoong melesakkan kepalanya ke dada yunho dan menangis membuat kemeja abu- abu yunho menjadi basah
“haaah gwencana, semuanya sudah terjadi” yunho  mengelus kepala jaejoong dengan sayang
“malam ini aku menginap disini ne yunnie ah?” jaejoong memasang puppy eyes attacknya
“ani.. kau harus pulang boo, aku tidak ingin appamu kawatir” jawab yunho                                                          
“aniya.. aku akan memberitahu appa jika aku bersamamu” yunho menggeleng
“kau harus tetap pulang, malam ini aku akan tidur di apartemen sendiri” jaejoong mengrucutkan bibirnya membuat yunho tertawa
“arasso arasso aku akan pulang nanti!” kesal jaejoong
“boo.. aku lapar sekali, kau tidak ingin membuat sesuatu untukku?” yunho mengelus perutnya
“ne, aku akan memasak tunggu ne” jaejoong beranjak menuju dapur yunho yang nampak rapi sekali
20 menit kemudian –
“yunnie ah, bangunlah.. ayo makan” jaejoong membangunkan yunoho yang terlelap di sofa
“eungh. Ne” yunho mengucek matanya dan berjalan kearah meja makan yang sudah ada berbagai makanan
“selamat makaan” ucap jaejoong ceria membuat yunho tertawa mereka makan dengan hening mendadak jaejoong ingat prercakapan yunho dan changmin kemarin ia menjadi tidak bernafsu makan benarkah ummanya berbuat hal seperti itu dan apakah appanya sudah mengetahuinya
“jangan makan dengan melamun seperti itu boo..” tegur yunho membuat jaejoong sadar kembali
“ah ne yunnie” jaejoong tersenyum lucu
“kau sedang memikirkan apa boo?” tanya yunho
“ani, aku tidak memikirkan apa – apa yunnie” yunho tau jaejoong berbohong tapi ia tidak akan memaksa jaejoong memberitahunya
“ne, lanjutkan makanmu boo” jaejoong mengangguk ponsel yang ada di atas meja makan bergetar
“ponselmu boo” jaejoong  melihat pesan yang baru saja diterimanya dari orang suruhannya jaejoong meremas ponselnya lalu meletakkannya kembali
‘nyonya kim sedang berada di red ocean café bersama seorang pria bernama tan hankyung CEO morimo corp’
“ada apa boo?” tanya yunho santai
“ani, junsu mengajakku party yunnie” jaejoong tersenyum yunho tau senyum itu dipaksakan

Yunho dan jaejoong sesesai membereskan cucian piring dan jaejoong berpamitan pulang yunho memaksa ingin mengantar tapi jaejoong bersikeras tidak mau
“gwencana.. aku sudah besar dan aku tau jalan pulang yunnie”
“baiklah.. aku mengalah, hati – hati dijalan ne” jaejoong mengangguk dan tersenyum perlahan meninggalkan aprtemen yunho menuju lift 

TING !

Setelah lift terbuka jaejoong langsung berlari menuju ke mobilnya yang terparkir dan mengemudikannya dengan cepat menuju cafe yang disebutkan taemin orang kepercayaannya jaejoong menghubungi taemin
“yeoboseyo jae hyung..” jawab taemin
“kau masih disana taemin? Apa mereka sudah pergi?” tanya jaejoong
“ani.. mereka masih disini belum beranjak hyung” jawab taemin
“aku sebentar lagi sampai disana” jawab jaejoong
“ne”
Pip.

Jaejoong smpai di pelataran café ia bisa melihat taemin duduk agak menjauh dari ummanya dan pria itu ia juga bisa melihat ummanya tertawa bahagia dan merona malu – malu saat digoda oleh pria itu tanpa disadarinya air mata yang ditahannya turun dengan deras membuat dadanya sangat sesak ia menangis sesenggukan  di dalam mobilnya dengan segera diusapnya air matanya dan menguatkan hati menelfon ummanya dilihatnya ummanya melihat ponselnya dan meminta izin pada pria itu

“yeoboseyo uri joongie” jawab umma kim
“yeoboseyoo umma..” ucap jaejoong ia mati- matian menahan tangisnya
“ada apa joongie, tumben menelfon umma?” jaejoong melihat tangan ummanya di genggam pria itu hantinya sangat sakit
“aku hanya ingin menelfonmu umma, kau sedang apa umma?” Tanya jaejoong
“uhm.. umma sedang diruang ganti dengan para model joongie, wae?” dusta umma kim
“ohh begitu, mian mengganggu kesibukanmu umma. Lanjutkan saja” 
Pip.

Jaejoong mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban ummanya terlalu sakit melihat apa yang dilihatnya dengan matanya sendiri juga kenyataan bahwa ummanya berbohong padanya adalah kenyataan yang benar – benar menamparnya ia membayangkan wajah appanya dan mulai terisak keras bagaimana appanya bisa menyembunyikan hal yang sangat menyakitkan ini dengan senyum ramahnya itu jaejoong tidak bodoh jika changmin dan yunho sudah menyelidiki ini pasti appanya telah tau yang sebenarnya terjadi.

Jaejoong melihat ummanya dan pria itu keluar dari café dan menuju ke mobil hitam bukan milik ummanya tapi milik pria itu saat mobil melaju agak jauh ia mengikuti mobil hitam itu di depannya nampak mobil taemin yang juga mengikuti mobil itu

Mobil yang ditumpangi ummanya sampai di hotel mirotic jaejoong sangat terkejut ia juga seorang namja yang sangat mengerti apa yang akan dilakukan kedua orang itu dengan jaejoong melihat keduanya bergandengan tangan dan memesan kamar jaejoong melangkah pelan mengikuti keduanya jaejoong melihat kamar bertuliskan 801 yang di masuki keduanya 20 menit yang lalu
kakinya bergetar dan airmatanya tak kuasa dibendungnya ia melangkah hingga didepan pintu kayu berwarna coklat yang nampak indah ia tahu hotel mirotic bukan hotel biasa hotel bintang lima yang hanya didatangi oleh para gedset juga kolongmerat ia melangkahkan kakinya menuju pintu di dipan kamar itu tangannya sudah akan mengetuk tapi suara ummanya menginterupsinya

‘aahh hannie.. faster.. shhh hanniee..’ 

Hati jaejoong berdenyut nyeri ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauh dari kamar itu ia berjalan cepat dengan air mata bercucuran menuju mobilnya 

yunnie.. aku sudah sampai rumah’ 

appa aku akan menginap dirumah junsu

Suie jika appaku ataupun yunho bertanya padamu katakan aku menginap dirumahmu

Setelah mengirim pesan kepada ketiganya jaejoong menekan tombol off dan membanting ponselnya ke dasbor mobil dan melajukan mobilnya menuju sungai han ia ingin menenangkan diri dengan kenyataan yang benar – benar menamparnya

“umma.. kenapa kau tega hiks sekali pada appa hiks” jaejoong  duduk di bangku yang ada di sepanjang sungai han ia menangis sesenggukan sambil memukul dadanya yang berdenyut sakit

“mengapa umma! Hiks..”   
masih dengan posisi yang sama hingga dua jam berlalu ia merasa tubuhnya kedinginan dan tangannya sudah mati rasa Karena ia hanya menggunakan kaos putih di lapisi sweeter dan skinny jeans belel ia berdiri dan berjalan menuju mobilnya dengan mata sembab ia tertidur di dalam mobilnya hingga pagi.



TBC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar